I.DEFINISI
PERTUMBUHAN EKONOMI
Pertumbuhan ekonomi
adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau
pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang
bila terjadi pertumbuhan outputriil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain
adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita.
Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output
riil per orang.
II.PERTUMBUHAN
EKONOMI DAN KENAIKAN PRODUKTIVITAS
Sementara negara-negara
miskin berpenduduk padat dan banyak hidup pada taraf batas hidup dan mengalami
kesulitan menaikkannya, beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan
Kanada, negara-negara Eropa Barat, Australia, Selandia Baru, dan Jepang
menikmati taraf hidup tinggi dan terus bertambah.Pertambahan penduduk berarti
pertambahan tenaga kerja serta berlakunya hukum Pertambahan Hasil yang
Berkurang mengakibatkan kenaikan output semakin kecil, penurunan produk
rata-rata serta penurunan taraf hidup. Sebaliknya kenaikan jumlah barang-barang
kapital, kemajuan teknologi, serta kenaikan kualitas dan keterampilan tenaga
kerja cenderung mengimbangi berlakunya hukum Pertambahan Hasil yang Berkurang.
Penyebab rendahnya pendapatan di negara-negara sedang berkembang adalah
berlakunya hukum penambahan hasil yang semakin berkurang akibat pertambahan
penduduk sangat cepat, sementara tak ada kekuatan yang mendorong pertumbuhan
ekonomi berupa pertambahan kuantitas dan kualitas sumber alam, kapital, dan
kemajuan teknologi.
III.PERMINTAAN
AGREGRATIF DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Pada gambar ini
dianggap bahwa tingkat PNN kesempatan kerja penuh pada thaun 1998 A sebesar 26
trilyun rupiah dan skedul permintaan agregratifnya adalah C+I+C1 hingga tingkat
PNN kesempatan kerja penuh dapat dicapai karena sama dengan tingkat pendapatan
keseimbangannya.Misalkan terjadi pertumbuhan kapasitas produksi akibat adanya
pertambahan sumber-sumber pertumbuhan ekonommi hingga tingkat PNN kesempatan
kerja penuh pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 1998 B menjadi 27 trilyun
rupiah atau kenaikan sebesar kira-kira 4% dalam output riil.Agar potensi
produksi total dapat direalisasikan maka permintaan agregratif harus naik
dengan laju pertumbuhan yang cukup untuk memelihara tingkat kesempatan kerja
penuh.Karenanya permintaan agregratif harus bergeser keatas menjadi C+I+C2.
Bila tidak atau naik secara lebih kecil maka kenaikan kapasitas produksi tak
dapat direalisasikan dan dimanfaatkan.Gambar ini menunjukkan aspek penciptaan
pendapatan oleh komponen pengeluaran investasi neto.
IV.TEORI
DAN MODEL PERTUMBUHAN EKONOMI
Dalam zaman ahli
ekonomi klasik, seperti Adam Smith dalam buku karangannya yang berjudul An
Inguiry into the Nature and Causes of the Wealt Nations, menganalisis sebab
berlakunya pertumbuhan ekonomidan factor yang menentukan pertumbuhan ekonomi.
Setelah Adam Smith, beberapa ahli ekonomi klasik lainnya seperti Ricardo,
Malthus, Stuart Mill, juga membahas masalah perkembangan ekonomi .
A.Teori Inovasi Schum
Peter
Pada teori ini
menekankan pada faktor inovasi enterpreneur sebagai motor penggerak pertumbuhan
ekonomi kapitalilstik.Dinamika persaingan akan mendorong hal ini.
B.Model Pertumbuhan
Harrot-Domar
Teori ini menekankan
konsep tingkat pertumbuhan natural.Selain kuantitas faktor produksi tenaga
kerja diperhitungkan juga kenaikan efisiensi karena pendidikan dan
latihan.Model ini dapat menentukan berapa besarnya tabungan atau investasi yang
diperlukan untuk memelihar tingkat laju pertumbuhan ekonomi natural yaitu angka
laju pertumbuhan ekonomi natural dikalikan dengan nisbah kapital-output.
C.Model Input-Output
Leontief.
Model ini merupakan
gambaran menyeluruh tentang aliran dan hubungan antarindustri. Dengan
menggunakan tabel ini maka perencanaan pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan
secara konsisten karena dapat diketahui gambaran hubungan aliran input-output
antarindustri. Hubungan tersebut diukur dengan koefisien input-output dan dalam
jangka pendek/menengah dianggap konstan tak berubah .
D.Model Pertumbuhan
Lewis
Model ini merupakan
model yang khusus menerangkan kasus negar sedang berkembang
banyak(padat)penduduknya.Tekanannya adalah pada perpindahan kelebihan penduduk
disektor pertanian ke sektor modern kapitalis industri yang dibiayai dari
surplus keuntungan.
E.Model Pertumbuhan
Ekonomi Rostow
Model ini menekankan
tinjauannya pada sejarah tahp-tahap pertumbuhan ekonomi serta ciri dan syarat
masing-masing. Tahap-tahap tersebut adalah tahap masyarakat tradisional, tahap
prasyarat lepas landas, tahap lepas landas, ahap gerakan ke arah kedewasaan, dan
akhirnya tahap konsimsi tinggi.
V.NEGARA
BERKEMBANG DAN FAKTOR PERTUMBUHANNYA
A.Ciri-ciri negara
sedang berkembang
1. Tingkat pendapatan
rendah,sekitar US$300 perkapita per tahun.
2. Jumlah penduduknya
banyak dan padat perkilo meter perseginya.
3. Tingkat pendidikan
rakyatnya rendah dengan tingkat buta aksara tinggi.
4. Sebagian rakyatnya
bekerja disektor pertanian pangan secara tak produktif,sementara hanya sebagian kecil rakyatnya bekerja disektor
industri.Produktifitas kerjanya rendah.
5. Kuantitas
sumber-sumber alamnya sedikit serta kualitasnya rendah.Kalau mempunyai sumber- sumber
alam yang memadai namun belum diolah atau belum dimanfaatkan.
6. Mesin-mesin produksi
serta barang-barang kapital yang dimiliki dan digunakan hanya kecil atau
sedikit jumlahnya.
7. Sebagian besar dari
mereka merupakan negara-negara baru diproklamasikan kemerdekaannya dari
penjajahan kira-kira satu atau dua dekade.
B.Transisi kependudukan
Yang mencerminkan
kenaikan taraf hidup rakyat di suatu negara adalah besarnya tabungan dan
akumulasi kapital dan laju pertumbuhan penduduknya. Laju pertumbuhan yang
sangat cepat di banyak negara sedang berkembang nampaknya disebabkan oleh fase
atau tahap transisi demografi yang dialaminya. Negara-negara sedang berkembang
mengalami fase transisi demografi di mana angka kelahiran masih tinggi
sementara angka kematian telah menurun. Kedua hal ini disebabkan karena
kemajuan pelayanan kesehatan yang menurun angka kematian balita dan angka tahun
harapan hidup. Ini terjadi pada fase kedua dan ketiga dalam proses
kependudukan. Umumnya ada empat tahap dalam proses transisi, yaitu:
Tahap 1:
Masyarakat
pra-industri, di mana angka kelahiran tinggi dan angka kematian tinggi
menghasilkan laju pertambahan penduduk rendah;
Tahap 2:
Tahap pembangunan awal,
di mana kemajuan dan pelayanan kesehatan yang lebih baik menghasilkan penurunan
angka kelahiran tak terpengaruh karena jumlah penduduk naik.
Tahap 3:
Tahap pembangunan
lanjut, di mana terjadi penurunan angka kematian balita, urbanisasi, dan
kemajuan pendidikan mendorong banyak pasangan muda berumah tangga menginginkan
jumlah
anak lebih sedikit
hingga menurunkan angka kelahiran. Pada tahap ini laju pertambahan penduduk
mungkin masih tinggi tetapi sudah mulai menurun;
Tahap 4:
Kemantapan dan stabil,
di mana pasangan-pasangan berumah tangga melaksanakan pembatasan kelahiran dan
mereka cenderung bekerja di luar rumah. Banyaknya anak cenderung hanya 2 atau 3
saja hingga angka pertambahan neto penduduk sangat rendah atau bahkan mendekati
nol.
C. Faktor penggerak
pertumbuhan ekonomi dalam menanggulangi kemiskinan
Dua hal esensial harus
dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi adalah, pertama sumber-sumber yang
harus digunakan secara lebih efisien. Ini berarti tak boleh ada sumber-sumber
menganggur dan alokasi penggunaannya kurang efisien.Yang kedua, penawaran atau
jumlah sumber-sumber atau elemen-elemen pertumbuhan tersebut haruslah
diusahakan pertambahannya.Elemen-elemen yang memacu pertumbuhan ekonomi
tersebut adalah sebagai berikut.
1.Sumber-sumber Alam
Elemen ini meliputi
luasnya tanah, sumber mineral dan tambang, iklim, dan lain-lain. Beberapa
negara sedang berkembang sangat miskin akan sumber-sumber alam, sedikitnya
sumber-sumber alam yang dimiliki meruoakan kendala cukup serius. Dibandingkan
dengan sedikitnya kuantitas serta rendahnya persediaan kapital dan sumber
tenaga manusia maka kendala sumber alam lebih serius.
2 .Sumber-sumber Tenaga
Kerja
Masalah di bidang
sumber daya manusia yang dihadapi oleh negara-negara sedang berkambang pada
umumnya adalah terlalu banyaknya jumlah penduduk, pendayagunaannya rendah, dan
kualitas sumber-sumber daya tenaga kerja sangat rendah.
3. Kualitas Tenaga
Kerja yang Rendah
Negara-negara sedang
berkembang tak mampu mengadakan investasi yang memadai untuk menaikkan kualitas
sumber daya manusia berupa pengeluaran untuk memelihara kesehatan masyarakat
serta untuk pendidikan dan latihan kerja.
4 .Akumulasi Kapital
Untuk mengadakan
akumulasi kapital diperlukan pengorbanan atau penyisihan konsumsi sekarang
selama beberapa decade. Di negara sedang berkembang, tingkat pendapatan rendah
pada tingkat batas hidup mengakibatkan usaha menyisihkan tabungan sukar
dilakukan. Akumulasi kapital tidak hanya berupa truk, pabrik baja, plastik dan
sebagainya; tetapi juga meliputi proyek-proyek infrastruktur yang merupakan
prasyarat bagi industrialisasi dan pengembangan serta pemasaran produk-produk
sektor pertanian. Akumulasi kapital sering kali dipandang sebagai elemen
terpenting dalam pertumbuhan ekonomi. Usaha-usaha untuk mendorong laju
pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan memusatkan pada akumulasi kapital. Hal ini
karena, pertama, hampir semua negara-negara berkembang mengalami kelangkaan
barang-barang kapital berupa mesi-mesin dan peralatan produksi, bangunan
pabrik, fasilitas umum dan lain-lain. Kedua, penambahan dan perbaikan kualitas
barang-barang modal sangat penting karena keterbatasan tersedianya tanah yang
bisa ditanami.
D. Peranan penting
pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi
1. Beberapa negara
sedang berkembang mengalami ketidak stabilan sosial, politik, dan ekonomi. Ini
merupakan sumber yang menghalangi pertumbuhan ekonomi. Adanya pemerintah yang
kuat dan berwibawa menjamin terciptanya keamanan dan ketertiban hukum serta
persatuan dan perdamaian di dalam negeri. Ini sangat diperlukan bagi
terciptanya iklim bekerja dan berusaha yang merupakan motor pertumbuhan
ekonomi.
2. Ketidakmampuan atau
kelemahan setor swasta melaksanakan fungsi entreprenurial yang bersedia dan
mampu mengadakan akumulasi kapital dan mengambil inisiatif mengadakan investasi
yang diperlukan untuk memonitori proses pertumbuhan.
3. Pertumbuhan ekonomi
merupakan hasil akumulasi kapital dan investasi yang dilakukan terutama oleh
sektor swasta yang dapat menaikkan produktivitas perekonomian. Hal ini tidak
dapat dicapai atau terwujud bila tidak didukung oleh adanya barang-barang dan
pelayanan jasa sosial seperti sanitasi dan program pelayanan kesehatan dasr
masyarakat, pendidikan, irigasi, penyediaan jalan dan jembatan serta fasilitas
komunikasi, program-program latihan dan keterampilan, dan program lainnya yang
memberikan manfaat kepada masyarakat.
4. Rendahnya
tabungan-investasi masyarakat (sekor swasta) merupakan pusat atau faktor
penyebab timbulnya dilema kemiskinan yang menghambat pertumbuhan ekonomi.
Seperti telah diketahui hal ini karena rendahnya tingkat pendapatan dan karena
adanya efek demonstrasi meniru tingkat konsumsi di negara-negara maju olah
kelompok kaya yang sesungguhnya bias menabung.
5. Hambatan sosial
utama dalam menaikkan taraf hidup masyarakat adalah jumlah penduduk yang sangat
besar dan laju pertumbuhannya yang sangat cepat. Program pemerintahlah yang
mampu secara intensif menurunkan laju pertambahan penduduk yang cepat lewat
program keluarga berencana dan melaksanakan program-program pembangunan
pertanian atau daerah pedesaan yang bisa mengerem atau memperlambat arus
urbanisasi penduduk pedesaan menuju ke kota-kota besar dan mengakibatkan
masalah-masalah social, politis, dan ekonomi.
6. Pemerintah dapat
menciptakan semangat atau spirit untuk mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi
yang cepat dan tidak hanya memerlukan pengembangan faktor penawaran saja, yang
menaikkan kapasitas produksi masyarakat, yaitu sumber-sumber alam dan manusia,
kapital, dan teknologi;tetapi juga faktor permintaan luar negeri. Tanpa
kenaikkan potensi produksi tidak dapat direalisasikan.
E.Strategi pertumbuhan
ekonomi
1.Industrialisasi
Versus Pembangunan Pertanian
Pembangunan pertanian
bersifat menggunakan teknologi padat tenaga kerja dan secara relatif
menggunakan sedikit kapital; meskipun dalam investasi pada pembuatan jalan, saluran
dan fasilitas pengairan, dan pengembangan teknologinya. Kenaikan produktivitas
sektor pertanian memungkinkan perekonomian dengan menggunakan tenaga kerja
lebih sedikit menghasilkan kuantitas output bahan makanan yang sama. Dengan
demikian sebagian dari tenaga kerja dapat dipindahkan ke sektor industri tanpa
menurunkan output sector pertanian. Di samping itu pembangunan atau kenaikkan
produktivitas dan output total sektor pertanian akan menaikan pendapatan di
sektor tersebut.
2.Strategi Impor Versus
Promosi Ekspor
Stategi industrialisasi
via substitusi impor pada dasarnya dilakukan dengan membangun industri yang
menghasilkan barang-barang yang semula diimpor. Alternatif kebijakan lain
adalah strategi industrialisasi via promosi ekspor. Kebijakan ini menekankan
pada industrialisasi pada sektor-sektor atau kegiatan produksi da dalam negeri
yang mempunyai keunggulan komparatif hingga dapat memproduksinya dengan biaya
rendah dan bersaing dengan menjualnya di pasar internasional. Strategi ini
secara relatif lebih sukar dilaksanakan karena menuntut kerja keras agar bisa
bersaing di pasar internasional.
3.Perlunya
Disertivikasi
Usaha mengadakan
disertivikasi bagi negara-negara pengekspor utama minyak dan gas bumi merupakan
upaya mempertahankan atau menstabilkan penerimaan devisanya.
VI.
ASPEK HUBUNGAN EKONOMI INTERNASIONAL DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI
A.Perluasan Perdagangan
Negara-negara maju
telah berkembang merupakan sumber atau pensupplai barang-barang kapital. Di
samping itu mereka juga merupakan pasar yang luas dan cukup besar yang membeli
ekspor hasil-hasil pertanian, pertambangan, bahan mentah, ataupun barang-barang
manufaktur oleh negara-negara sedang berkembang. Penurunan harga di pasar dunia
akan bahan-bahan mentah produk pertanian ataupun hasil pertambangan akan sama
seperti halnya turunnya harga minyak bumi ataupun harga tembaga di pasaran
internasional.
B.Aliran Penanaman
Modal (Investasi) Asing
Aliran kapital atau
investasi asing dari luar negeri baik oleh sector pemerintah maupun swasta
asing dapat merupakan suplemen atau pelengkap bagi usaha pemecahan lingkaran
setan kemiskinan. Penanaman modal asing banyak bergerak di sektor eksplorasi
sumber alam berupa pertambangan, kehutanan, perikanan, dan juga di sektor
manufacturing. Swasta asing yang melakukan investasi umumnya merupakan
perusahaan besar multinasional.
C.Bantuan Luar Negeri
Berupa Hadiah dan Pinjaman
Bantuan asing bisa
diberikan secara langsung atau melalui lembaga keuangan internasional. Contoh
bantuan langsung berupa hadiah atau pinjaman yang diberikan oleh US-AID (United
State Agency for International Development), suatu lembaga bantuan luar negeri
pemerintah Amerika Serikat, atau dari badan-badan luar negeri yang serupa dari
negara-negara maju telah berkembang lainnya.
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
Definisi Pertumbuhan
Ekonomi
Pengertian pertumbuhan
ekonomi harus dibedakan dengan pembangunan ekonomi.Dalam makalah pertumbuhan
ekonomi ini,penulis ingin menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi hanyalah
merupakan salah satu aspek saja dari pembangunan ekonomi yang lebih menekankan
pada peningkatan output agregat khususnya output agregat per kapita.
Pertumbuhan ekonomi
dapat diartikan sebagai proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara
secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu.
Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi
suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.
Perekonomian dikatakan
mengalami pertumbuhan apabila jumlah balas jasa riil terhadap penggunaan
faktor-faktor produksi pada tahun tertentu lebih besar daripada tahun sebelumnya.
Indikator yang
digunakan untuk menghitung tingkat Pertumbuhan Ekonomi
* Tingkat Pertumbuhan
PDB (Produk Domestik Bruto)
* Tingkat Pertumbuhan
PNB (Produk Nasional Bruto)
Dalam praktek angka,
PNB kurang lazim dipakai, yang lebih populer dipakai adalah PDB, karena angka
PDB hanya melihat batas wilayah,terbatas pada negara yang bersangkutan.
Perbedaan Pembangunan
Ekonomi dengan Pertumbuhan Ekonomi
* Pembangunan ekonomi
lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat
perubahan-perubahan dalam struktur perekonomian.
* Pertumbuhan ekonomi
keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar
pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan
Persamaan Pembangunan
Ekonomi dengan Pertumbuhan Ekonomi
* Kedua-duanya
merupakan kecenderungan di bidang ekonomi.
* Pokok permasalahan
akhir adalah besarnya pendapatan per kapita.
* Kedua-duanya menjadi
tanggungjawab pemerintah dan memerlukan dukungan rakyat.
* Kedua-duanya
berdampak kepada kesejahteraan rakyat.
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
1. Faktor Sumber Daya
Manusia, Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi juga
dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam
proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan tergantung kepada
sejauhmana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi
yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan.
2. Faktor Sumber Daya Alam,
Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam dalam
melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian, sumber daya alam saja tidak
menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi, apabila tidak didukung oleh
kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang
tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan
mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.
3. Faktor Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi, Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
semakin pesat mendorong adanya percepatan proses pembangunan, pergantian pola
kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin
canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian
aktivitas pembangunan ekonomi yang dilakukan dan pada akhirnya berakibat pada
percepatan laju pertumbuhan perekonomian.
4. Faktor Budaya,
Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan ekonomi yang
dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses
pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat pembangunan. Budaya yang dapat
mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur,
ulet dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pembangunan
diantaranya sikap anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.
5. Sumber Daya Modal,
Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan meningkatkan
kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal sangat penting
bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena barang-barang modal
juga dapat meningkatkan produktivitas.
Analisis Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode Tahun 1984-2003
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masalah
Pertumbuhan ekonomi
merupakan masalah perekonomian dalam jangka panjang, dan pertumbuhan ekonomi
merupakan fenomena penting yang dialami dunia hanya dua abad belakangan ini,
dan oleh Simon Kuznets, seorang ahli ekonomi terkemuka di Amerika Serikat yang
pernah memperoleh hadiah Nobel dinyatakan bahwa, proses pertumbuhan ekonomi
tersebut dinamakannya sebagai Modern Economic Growth. Dalam periode tersebut,
dunia telah mengalami perkembangan pembangunan yang sangat nyata apabila
dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Sampai abad ke-18, sebagian
besar masyarakat di dunia masih hidup pada tingkat subsistem, dan mata
pencaharian utamanya adalah dari melaksanakan kegiatan di sektor pertanian,
perikanan atau berburu. (Sadono Sukirno, 1998, : 413)
Pada dasarnya, pertumbuhan
ekonomi diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan output perkapita dalam
jangka panjang. Hal ini berarti, bahwa dalam jangka panjang, kesejahteraan
tercermin pada peningkatan output perkapita yang sekaligus memberikan banyak
alternatif dalam mengkonsumsi barang dan jasa, serta diikuti oleh daya beli
masyarakat yang semakin meningkat. (Boediono, 1993 : 1 – 2)
Pertumbuhan ekonomi
juga bersangkut paut dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam
kegiatan ekonomi masyarakat. Dapat dikatakan, bahwa pertumbuhan menyangkut
perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil
produksi dan pendapatan. Dalam hal ini berarti terdapatnya kenaikan dalam
pendapatan nasional yang ditunjukkan oleh besarnya nilai Produk Domestik Bruto
(PDB).
Indonesia, sebagai
suatu negara yang sedang berkembang, sejak tahun 1969 dengan giat melaksanakan
pembangunan secara berencana dan bertahap, tanpa mengabaikan usaha pemerataan
dan kestabilan. Pembangunan nasional mengusahakan tercapainya pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi, yang pada akhirnya memungkinkan terwujudnya
peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat. Perkembangan
pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dapat dilihat pada Tabel 1.1 yang menerangkan
bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perubahan yang fluktuatif dari
tahun ke tahun.
Perkembangan
pertumbuhan ekonomi di Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif dari
tahun 1984-1997. Pada tahun 1998 menunjukkan penurunan pertumbuhan ekonomi
yaitu – 13,12 %, hal ini disebabkan karena krisis moneter dan krisis ekonomi
yang terjadi pada pertengahan tahun 1997, yang berlanjut menjadi krisis
multidimensi, sehingga membawa dampak pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia
pada tahun 1998, pada tahun 1999-2003 baru dapat tumbuh lagi pertumbuhan
ekonominya walaupun tidak sepesat pada tahun-tahun sebelumnya.
Dari tabel 1.1
terlihat, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 1985, pertumbuhan
ekonomi Indonesia sebesar 2,47 %. Hal ini terjadi, karena Indonesia harus
menghadapi tantangan yang cukup berat, yaitu kelesuan kegiatan ekonomi dalam
negeri, ditambah lagi dengan penurunan harga minyak bumi yang cukup tajam,
serta melemahnya daya saing barang-barang produksi dalam negeri, sehingga
penerimaan devisa dari ekspor menurun. Pada tahun 1995, pertumbuhan ekonomi
Indonesia mencapai angka yang tertinggi, yakni sebesar 8,22 %. Kenaikan ini
sebagian besar didorong oleh kenaikan konsumsi dan sebagai dampak dari adanya
boom investasi yang terjadi pada tahun 1995, dengan nilai investasi sebesar
39.914,7 juta US Dolar.
Krisis moneter dan
krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997, yang berlanjut menjadi
krisis multidimensi, membawa dampak pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pada
tahun 1998, pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan yang cukup tajam, yaitu
sebesar minus 13,12 %. Kemudian, pada tahun-tahun berikutnya, perekonomian
nasional Indonesia mengalami pemulihan (recovery), meskipun jika dibandingkan
dengan negara-negara Asia lainnya yang mengalami krisis serupa, proses pemulihan
ekonomi di Indonesia relatif lebih lambat.
Memasuki tahun 2000,
perekonomian Indonesia diwarnai oleh nuansa optimisme yang cukup tinggi. Hal
ini antara lain ditandai dengan menguatnya nilai tukar rupiah sejalan dengan
penurunan inflasi dan tingkat suku bunga pada sektor riil. Pertumbuhan ekonomi
pada tahun 2000 sebesar 4,86 % lebih tinggi dari prakiraan awal tahun oleh Bank
Indonesia sebesar 3,0 % sampai dengan 4,0 %. Pada tahun 2002 semakin membaik
dibandingkan tahun 2001, berdasarkan perhitungan PDB atas dasar harga konstan
1993, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2002 adalah sebesar 3,66 %, dan
laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2001 sebesar 3,45 %, Sedangkan pada tahun
2003 laju pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 4,10 %.
Perekonomian Indonesia
menunjukkan kinerja yang membaik dan lebih stabil selama 2003 sebagaimana yang
tercermin pada pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Walaupun demikian,
pertumbuhan ekonomi yang terjadi masih belum memadai untuk menyerap tambahan
angkatan kerja sehingga jumlah pengangguran masih mengalami kenaikan. Aktivitas
perdagangan dunia yang masih lesu mengakibatkan pertumbuhan volume ekspor
Indonesia, khususnya komoditas nonmigas, relatif rendah. Dalam situasi
demikian, kinerja ekspor secara nominal sangat terbantu oleh meningkatnya harga
komoditas migas dan nonmigas di pasar internasional sehingga secara keseluruhan
nilai ekspor pada 2003 masih mengalami kenaikan yang signifikan dan menjadi
penopang utama terjadinya surplus transaksi berjalan selama 2003. (Laporan Bank
Indonesia, 2003 : 4-5)
Namun, dengan
perkembangan perekonomian yang dicapai saat ini, Indonesia masih harus
menghadapi permasalahan yang mungkin juga dialami negara lain, khususnya negara
sedang berkembang, yang sedang melaksanakan pembangunan. Pembangunan tersebut
tentunya memerlukan dana dalam jumlah yang besar.
Menurut Harrod Domar,
dalam mendukung pertumbuhan ekonomi diperlukan investasi-investasi baru sebagai
stok modal. Semakin banyak tabungan yang kemudian diinvestasikan, maka semakin
cepat terjadi pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi secara riil, tingkat pertumbuhan
ekonomi yang terjadi pada setiap tabungan dan investasi tergantung dari tingkat
produktivitas investasi tersebut. (M. P. Todaro, 1993, : 65 – 66)
Pembentukan modal
merupakan investasi dalam bentuk barang-barang modal yang dapat menaikkan stok
modal, output nasional, dan pendapatan nasional. Jadi, pembentukan modal
merupakan kunci utama menuju pembangunan ekonomi.